Puisi Aku dan Anak-Anakku
Petani
karya N.S. listiati
Dendang ceruti mengiringi langkah mu
Menuju asa menuai bahagia
Mengharap keridhoanNya semata
Untuk anak isteri tercinta
Namun kisahmu kini berbalur lara
Punai di tangan tak kau dapatkan
hanya seonggok harapan yang hangus
Padi yang akan kau tuai memuai
Meski harapanmu pupus terhapus, tekadmu tak pernah luntur
Tak kau pedulikan harga urea yang melambung ke awan
Tak kau acuhkan pasukan curut menggerogoti
Karena bagimu hidup adalah menjalani takdir ilahi
Cibadak, 17 September 2020
GUNUNG YANG INDAH
karya Reva
Tubuhmu menjulang tinggi
Menembus cakrawala
Tempat yang sejuk....
Tempat awan bergulung...
Pohon yang hijau....
Menghiasi indah nya gunung....
Burung-burung berkicauan...
Bagaikan sedang bernyanyi....
Sungai yang jernih.....
Memperindah mata yang melihat....
Gemericik air yang mengalir.....
PETANI
Rio
petani, kau bekerja keras disawah
Membanting tulang
Dengan hasil jerih payahnya
Demi kehidupan keluarganya
Bukan demi harta
Bukan demi uang
Bukan demi emas berlian yang
Berkilauan
Tapi demi kehidupan
Yang sejahtera, abadi, Tenteram, dan dama
Yang bermanfaat bagi orang...
Cibadak, 17 September 2020
Aku dan Sebuah Pohon
karya Winda
Aku berjalan mendekatinya
Duduk dengan nyaman di dekatnya
Bersandar aku kepadanya
Kuambil buku yang berada di tas ku ini
Memulai menulis di buku yg kusayangi
Pemberian dari seseorang yang telah pergi
Angin berhembus tidak terlalu kencang
Membuat daun-daun ikut bergerak kesana kemari
Rambut ku pun ikut terbawa oleh sang angin
Angin seolah membawa pesan darinya
Seolah membisikkan rindu dari ia
Yang membuat semakin ingin bertemu dengannya
Pohon kau membuatku merasa tidak sendiri
Kau sangat bermakna bagiku ini
Seperti dirinya yang telah pergi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar